Ekonomi

IHSG BEI Hari Senin 24 Agustus 2026: Melemah Terseret Geopolitik dan Defisit Transaksi Berjalan, Rabu Sideways

Published

on

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menguat saat pembukaan harus terpeleset melemah ke 6.501 pada penutupan perdagangan Senin (24/8/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) gagal mempertahankan zona hijau dan ditutup melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026). Sempat dibuka menguat ke posisi 6.544,00 pada pagi hari, IHSG justru berbalik arah hingga akhirnya meluncur 24,02 poin atau 0,37 persen ke level 6.501,67.

Seiring dengan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan (LQ45) turut terkoreksi 0,41 persen ke posisi 641,95.

Pelemahan IHSG beriringan dengan mayoritas bursa saham kawasan Asia yang kompak tertekan. Indeks Kospi Korsel memimpin penurunan drastis hingga 3,12 persen, disusul Hang Seng Hong Kong (-1,89%), Nikkei Jepang (-0,69%), Shanghai China (-0,59%), serta Straits Times Singapura (-0,15%).

Tekanan Geopolitik dan Rekor Defisit

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya,  Senin, mengemukakan, bursa regional Asia cenderung melemah seiring pelemahan futures saham Amerika Serikat (AS) menjelang konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait rencana sanksi tambahan terhadap Iran.

“Meski Iran menyatakan langkah tersebut tidak akan melemahkan Teheran,” ujar Nico seperti dikutip dari Metrotv.

Advertisement

Sementara dari kawasan Asia, investor juga menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China pada 25-28 Agustus 2026 untuk mencari sinyal kebijakan baru. Perhatian investor tertuju pada kebijakan pemerintah Tiongkok, terutama setelah sejumlah data ekonomi yang mengecewakan dan komitmen pemerintah untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan IHSG turut dipengaruhi kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit transaksi berjalan yang melebar ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut terjadi seiring menyusutnya surplus barang dan meningkatnya biaya impor energi.

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 melebar menjadi USD12,5 miliar atau setara 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dari perkembangan itu faktor yang membuat IHSG melemah:

  • Sentimen Eksternal: Pasar merespon negatif gejolak pasar masa depan (futures) saham AS menjelang pengumuman sanksi tambahan AS terhadap Iran. Investor regional juga bersikap wait and see menantikan arah kebijakan ekonomi baru dari pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China.
  • Sentimen Domestik: Kekhawatiran pelaku pasar mencuat pasca Bank Indonesia (BI) merilis data defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 yang membengkak signifikan hingga USD 12,5 miliar (3,3% dari PDB) akibat melonjaknya biaya impor energi.

Proyeksi Rabu (26/8/2026)

Pasar saham Indonesia akan diliburkan pada Selasa dan kembali dibuka pada Rabu, 26 Agustus 2026. Sejumlah sekuritas membagikan proyeksi teknikalnya:

Advertisement
  • Phintraco Sekuritas: Memperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways pada kisaran rentang 450 – 6.570. Indikator teknikal menunjukkan posisi IHSG masih bertahan di atas MA100 dengan histogram MACD positif, meski Stochastic RSI mulai mendekati area overbought.
  • MNC Sekuritas: Memperingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek ke area 429 – 6.453, sebelum berpeluang kembali menguji target resisten di kisaran 6.570 – 6.600.

Saham Pilihan Trading Rabu: MNC Sekuritas merekomendasikan empat saham pilihan yang menarik untuk dicermati pada perdagangan Rabu: ANTM (Aneka Tambang Tbk), PGAS (Perusahaan Gas Negara Tbk), PTBA (Bukit Asam Tbk), TINS (Timah Tbk).

Pergerakan Bursa Hari Ini

Perdagangan hari ini membukukan nilai transaksi Rp14,26 triliun dengan frekuensi 2,17 juta kali. Sebanyak 384 saham memerah, 276 saham menguat, dan 303 saham stagnan.

Dari 11 sektor IDX-IC, 9 sektor terperosok ke zona merah dengan penurunan terdalam dipimpin oleh sektor kesehatan (-2,30%), properti (-1,27%), dan keuangan (-0,86%). Hanya sektor barang baku (+1,21%) dan industri (+0,15%) yang mampu bertahan di zona hijau. ***

Exit mobile version