Ekonomi

Dongkrak Daya Saing Global Fesyen dan Kriya, Menperin AGK Resmikan Gedung Hijau BPIFK di Bali

Published

on

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (8/5/2026). (Kemenperin)

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (8/5/2026). (Kemenperin)

FAKTUAL INDONESIA: Industri kreatif Indonesia, khususnya sektor fesyen dan kriya, kini memiliki “markas” baru yang megah dan ramah lingkungan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara resmi meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (8/5/2026).

Kehadiran gedung ini bukan sekadar seremoni pembangunan fisik, melainkan simbol komitmen pemerintah untuk membawa produk lokal naik kelas melalui inovasi desain, penguasaan teknologi, dan penguatan kualitas SDM.

Bali Sebagai Pusat Kendali

Pemilihan Bali sebagai lokasi BPIFK bukan tanpa alasan. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) menjelaskan bahwa Pulau Dewata memiliki ekosistem industri kreatif yang sangat kuat dengan 25 sentra IKM fesyen dan 197 sentra IKM kriya.

Advertisement

“Bali tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga simpul pengembangan yang terhubung langsung dengan pasar internasional,” ujar Menperin AGK.

BPIFK sendiri merupakan transformasi dari program Bali Creative Industry Center (BCIC) yang sudah eksis sejak 2015.

Melaju Pesat di Tahun 2026

Data menunjukkan betapa vitalnya sektor ini bagi ekonomi nasional:

  • Pertumbuhan PDB: Pada Triwulan I-2026, PDB sektor fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun, melonjak 7,89% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
  • Investasi Melimpah: Total investasi di sektor ini menembus Rp14,21 triliun pada awal tahun 2026, yang terdiri dari modal domestik (PMDN) Rp4,83 triliun dan modal asing (PMA) Rp9,38 triliun.
  • Ekspor Tangguh: Pada Januari-Februari 2026, ekspor kriya mencapai USD2,43 miliar, disusul pakaian jadi USD1,44 miliar, dan tekstil USD0,52 miliar.

Penyerapan Tenaga Kerja

Di balik angka-angka makro tersebut, ada jutaan tangan kreatif yang terlibat. Terdapat sekitar 1,75 juta unit usaha IKM fesyen dan kriya yang berhasil menyerap 3,69 juta tenaga kerja. Kehadiran BPIFK diharapkan menjadi akselerator agar jutaan pelaku usaha ini bisa terus berkembang dan berdaya saing di pasar global.

Advertisement

Gedung Hijau dan Produk Lokal

Menariknya, Gedung BPIFK dibangun dengan prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang mengutamakan efisiensi energi dan pengelolaan limbah. Selain itu, proyek ini membuktikan kecintaan pada produk dalam negeri dengan penggunaan material lokal mencapai 92% dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 61,8%.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menambahkan bahwa gedung yang berdiri di atas lahan 2.000 meter persegi ini berfungsi sebagai creative hub.

“Hingga awal 2026, kami sudah mendampingi 722 pelaku IKM dari 29 provinsi. Tujuannya jelas: meningkatkan omzet, kualitas produk, dan memastikan IKM kita naik kelas secara berkelanjutan,” tutupnya seperti dilansir dalam siaran pers Kemenperin. ***

Advertisement
Exit mobile version