Ekonomi

Badai Belum Berlalu, Rupiah Terlempar Masuk Terlemah Sepanjang Masa, IHSG BEI Terpeleset ke Bawah 7.000

Published

on

Tekanan badai masih menerpa pasar keuangan domestik sehingga nilai tukar (kurs) rupiah makin terpuruk dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpeleset ke zona merah, Selasa (7/4/2026). (AI/Ist)

Tekanan badai masih menerpa pasar keuangan domestik sehingga nilai tukar (kurs) rupiah makin terpuruk dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpeleset ke zona merah, Selasa (7/4/2026). (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Badai belum berlalu dari pasar keuangan domestik dan terus menghantam nilai tukar rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (7/4/2026).

Tinggi dan kuatnya badai menghantam membuat nilai tukar rupiah mencatatkan sejarah kelam dengan menembus level psikologis baru.

Sementara IHSG meskipun sempat memberikan perlawanan dengan menguat di pagi hari namun gagal mempertahankan kekuatannya sehingga kembali terpeleset ke zona merah.

Rupiah Tembus Rp17.105

Rupiah dari kemarin hingga hari ini benar-benar berada dalam tekanan hebat. Mata uang Garuda kian tak berdaya melawan kegagahan dolar Amerika Serikat (AS). Sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing rupiah sudah terkapar di posisi terlemah sepanjang masa.

Advertisement

Ketika perdagangan dibuka Selasa pagi, kurs rupiah sudah melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp17.064 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.035 per dolar AS.

Rupiah semakin melemah di penutupan perdagangan ketika ditutup melemah 70 poin atau 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.092 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS.

Pemicu utama yang membuat posisi rupiah masuk terlemah sepanjang sejarah tidak lain eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Ancaman Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz memicu kekhawatiran global. Investor cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan mengalihkannya ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong seperti dilansir liputan6, mengatakan, pelemahan rupiah masih dibayangi eskalasi perang AS dengan Iran.

Advertisement

Sedangkan pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan ini dipengaruhi potensi eskalasi di Timur Tengah antara AS dengan Iran.

“Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Untuk perdagangan Rabu, dia memprediksi rupiah  kembali melemah. “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 17.100 – Rp 17.150,” ungkap Ibrahim.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Ibu Destry Damayanti, mengatakan di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI).

“Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Destry dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Advertisement

Selain itu, Bank Indonesia secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF maupun NDF di  offshore market.

IHSG Gagal “Rebound”

Senasib dengan rupiah, IHSG juga harus rela ditutup melemah. Meski sempat dibuka menguat pada pagi hari berkat harapan gencatan senjata, nyatanya sentimen negatif lebih mendominasi di akhir sesi.

Pada pembukaan perdagangan saham Selasa pagi, IHSG sempat memberikan harapan untuk rebound ketika dibuka menguat 11,85 poin poin atau 0,17 persen ke posisi 7.001,28. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,41 poin atau 0,06 persen ke posisi 707,35.

Namun IHSG gagal rebound setelah terpeleset ke zona merah di penutupan ketika ditutup melemah 18,40 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.971,03. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,10 poin atau 0,86 persen ke posisi 701,66.

Advertisement

Tercatat nilai transaksi sebesar Rp13,46 Triliun. Sebanyak 431 saham tercatat melemah, sementara hanya 261 saham yang berhasil menguat. Sektor terparah terpantau pada industri (turun 2,63%) dan transportasi (turun 1,35%).

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan IHSG sempat terkoreksi dan ditutup di bawah level 7.000, mencerminkan dominasi sentimen risk-off.

“Pelemahan IHSG yang sempat turun di bawah 7.000, bersamaan dengan rupiah yang bertahan di atas 17.000, mencerminkan meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik. Dalam kondisi ini, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi,” ujar Rully, Selasa (7/4/2026), seperti dilansir RCTI+.

Rully menambahkan, pergerakan rupiah di atas level tersebut, di tengah indeks dolar yang relatif stabil, mengindikasikan Bank Indonesia mulai memberi ruang penyesuaian lebih besar setelah periode intervensi yang cukup agresif.

“Dengan IHSG yang telah terkoreksi hingga 6.917 dan rupiah di atas 17.000, kami melihat tekanan pasar masih berpotensi berlanjut, terutama jika arus keluar dana asing meningkat ke kisaran Rp500 miliar–Rp1 triliun per hari dalam jangka pendek,” ungkapnya.

Advertisement

Ke depan, tekanan diperkirakan masih berlanjut seiring eskalasi geopolitik dan kenaikan harga minyak, yang umumnya menekan mata uang negara net importir seperti Indonesia.

Di sisi fiskal, kebijakan pemerintah menahan harga BBM untuk menjaga daya beli turut mendorong defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9 persen PDB, meningkat dari 0,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” kata Rully.

Sementara itu, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish.

“IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di 6.892–6.731, sementara resistance terdekat berada di kisaran 7.117–7.222,” ujar Nafan.

Advertisement

Di tengah kondisi ini, Nafan melihat peluang trading selektif pada sejumlah saham. Barito Pacific (BRPT) menunjukkan indikasi akumulasi, Elnusa (ELSA) berada dalam kondisi oversold, sementara Map Aktif Adiperkasa (MAPA) berada dalam fase bullish consolidation.

“Pergerakan indeks dan saham saat ini menunjukkan pasar masih cenderung berhati-hati, dengan peluang trading yang lebih selektif,” pungkas Rully.

Sentimen Global Jadi Penentu

Analis menilai bahwa pasar saat ini sedang dalam mode wait and see. Ketidakpastian mengenai pasokan energi global akibat blokade jalur laut strategis membuat harga minyak mentah melambung, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran inflasi tinggi di dalam negeri.

“Pasar sangat sensitif terhadap isu geopolitik saat ini. Selama tensi di Selat Hormuz belum mendingin, tekanan terhadap rupiah dan IHSG diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan,” ujar salah satu analis pasar modal di Jakarta.

Advertisement

Bagi para investor, kondisi ini menjadi pengingat untuk tetap waspada dan melakukan diversifikasi portofolio guna meminimalisir risiko di tengah fluktuasi pasar yang sangat tinggi.

Investor akan memantau respons Iran terhadap tenggat waktu AS serta rilis data ekonomi domestik terbaru yang diharapkan dapat memberi sedikit napas segar bagi pasar keuangan Indonesia. Harapannya badai segera berlalu. ***

Exit mobile version