Ekonomi
APEC MRT 2026 Suzhou: Wamendag Roro Bahas Ekspor Durian Segar dan Pengembangan UMKM dengan Tiongkok

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri terus mengupayakan peningkatan performa perdagangan Indonesia melalui berbagai pertemuan dengan beberapa perwakilan negara di sela pelaksanaan APEC Ministers’ Responsible for Trade (MRT) 2026 di Suzhou, Tiongkok. (Kemendag)
FAKTUAL INDONESIA: Durian segar serta produk pertanian potensial lainnya menjadi fokus utama dalam pertemuan bilateral Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri dengan Wakil Menteri Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Li Chenggang di sela-sela pelaksanaan APEC Ministers’ Responsible for Trade (MRT) 2026 di Suzhou, Tiongkok.
Wamendag Roro terus mengupayakan peningkatan performa perdagangan Indonesia melalui berbagai pertemuan dengan beberapa perwakilan negara di sela pelaksanaan APEC MRT 2026.
Baca Juga : APEC MRT 2026 Suzhou: Sangat Produktif, Wamendag Roro Perkuat Hubungan Dagang dengan Empat Negara
Selain melakukan pertemuan dengan Li Chenggang, dalam kesempatan itu Wamendag Roro juga
bertemu Parliamentary Secretary of Trade of Canada, Yasir Naqvi, Sabtu (23/5/2026).
Isu Teknis Perdagangan
Diskusi produktif yang bergulir antara Wamendag Roro dengan Wamendag RRT Li Chenggang, banyak membahas penguatan hubungan ekonomi kedua negara. Dalam kesempatan tersebut, Roro menegaskan bahwa RRT merupakan mitra dagang utama Indonesia sekaligus tujuan ekspor terbesar bagi berbagai komoditas nasional.
“Kemitraan strategis antara Indonesia dan RRT ini krusial terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika pasar global,” kata Wamendag Roro.
Baca Juga : Wamendag Roro dan Wamen ESDM Yuliot Bahas Kelancaran dan Ketersediaan Pasokan Energi Dalam Negeri
Terkait isu teknis perdagangan dengan General Administration of Customs of China (GACC), pihak Indonesia secara khusus mendorong percepatan akses pasar dan penyederhanaan prosedur ekspor untuk beberapa komoditas pertanian nasional. Salah satu komoditas yang menjadi fokus utama adalah produk durian segar serta produk pertanian potensial lainnya.
“Kami berharap produk-produk pertanian Indonesia dapat memenuhi standar karantina Tiongkok dengan lebih cepat, menekan biaya logistik, dan memiliki daya saing yang lebih tinggi untuk merambah pasar Tiongkok secara lebih luas,” kata Wamendag.
Pengembangan UMKM juga tidak luput menjadi salah satu pokok bahasan. Roro menekankan pentingnya peningkatan kapasitas UMKM melalui transfer teknologi dan pengetahuan dari Tiongkok.
Untuk mendukung implementasi kerja sama ini, Kemendag RI siap mengolaborasikan program transfer pengetahuan tersebut melalui Indonesia Design Development Center (IDDC) sebagai wadah pusat inovasi dan pengembangan desain produk ekspor UMKM nasional.
Merespons hal tersebut, Li Chenggang menegaskan bahwa Tiongkok berkomitmen untuk terus menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan membuka pintu pasar domestik mereka lebih lebar bagi produk-produk berkualitas tinggi dari Indonesia.
Baca Juga : Jadi Pembicara Kunci di FEB UI, Wamendag Roro: Mahasiswa Memiliki Peran Strategis Sebagai Changemakers
“Kami juga mengapresiasi relasi perdagangan yang telah terjalin baik selama ini antara RRT dengan Indonesia, kami bersiap mengeksplorasi berbagai peluang lain ke depan dengan tetap mengacu pada aturan World Trade Organization (WTO) dan kesepakatan Free Trade Agreement (FTA) yang berlaku,” kata Li Chenggang.
Guna mendorong volume ekspor Indonesia ke pasar Tiongkok, Li Chenggang menyampaikan rencana untuk mengundang Indonesia hadir dalam pameran bergengsi China International Import Expo (CIIE) tahun 2026. Selain CIIE, pemerintah RRT juga mendorong pelaku usaha Indonesia untuk mengoptimalkan platform pameran internasional lainnya seperti China-ASEAN Expo (CAEXPO). Kehadiran Indonesia dalam ajang pameran dagang internasional ini dinilai menjadi bentuk konkret upaya peningkatan promosi, perluasan jaringan bisnis, serta penetrasi produk unggulan nusantara ke pasar Tiongkok yang potensial.
Tentang pentingnya peningkatan kapasitas UMKM, Tiongkok mengundang Indonesia untuk memanfaatkan kuota pelatihan sebanyak 1.000 orang per tahun, khususnya untuk memperkuat aspek pengemasan (packaging) dan desain produk bernilai tambah.
Memasuki tahun 2026, volume perdagangan antara Indonesia dan RRT mencatatkan pertumbuhan yang makin kokoh. Total nilai transaksi ekspor Indonesia ke RRT berhasil menembus angka USD 67 miliar. Portofolio ekspor Indonesia didominasi oleh komoditas unggulan seperti besi dan baja, batu bara, serta minyak kelapa sawit. Sementara itu, arus impor dari Tiongkok ke Indonesia didominasi oleh produk-produk bernilai tambah tinggi, termasuk mesin-mesin industri, perangkat elektronik, dan kendaraan listrik beserta komponennya.
Baca Juga : Mendag Busan Lepas Ekspor Rumput Laut ke Tiongkok, Wamendag Roro Kirim Beras ke Arab Saudi
Dorong Utilisasi ICA-CEPA
Dalam pertemuan Wamendag Roro dengan Parliamentary Secretary of Trade of Canada, Yasir Naqvi, fokus utama membahas langkah strategis implementasi dan optimalisasi pemanfaatan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang telah disepakati kedua negara. Dari sisi Indonesia, rencana pengesahan ICA-CEPA telah tuntas dibahas dan disetujui oleh DPR RI melalui rapat kerja antara Menteri Perdagangan bersama Komisi VI DPR RI pada 19 Mei 2026 lalu. Tahapan serupa juga telah diselesaikan oleh pihak Kanada melalui badan legislatif mereka.
“Pertemuan bilateral ini merupakan momentum krusial bagi Indonesia dan Kanada untuk memastikan bahwa implementasi ICA-CEPA dapat berjalan optimal dan sesuai timeline yang direncanakan. Kami mendorong kolaborasi investasi yang saling menguntungkan kedua negara dan berharap para pelaku usaha benar-benar memanfaatkan payung kerja sama ini,” ujar Roro.
Lebih lanjut, Roro menegaskan bahwa Kanada merupakan mitra dagang dan investasi yang sangat strategis bagi Indonesia. Melalui kerangka ICA-CEPA, kedua negara sepakat untuk mempercepat integrasi rantai pasok global, khususnya pada sektor-sektor seperti teknologi dan ketahanan pangan.
Merespons hal tersebut, Yasir Naqvi mengapresiasi perkembangan yang telah terwujud. Ia menggarisbawahi bahwa Pemerintah Kanada memandang Indonesia sebagai jangkar ekonomi yang penting di kawasan Asia Tenggara. Pihaknya optimistis pemanfaatan ICA-CEPA akan menjadi katalisator kuat dalam mendiversifikasi pasar dan meningkatkan volume perdagangan bilateral secara signifikan di tengah tantangan geopolitik global.
Baca Juga : Wamendagri Minta Gubernur Kaltim Kaji Ulang Anggaran Mobil Dinas Rp8,5 Miliar
“Dari sisi Kanada, salah satu yang sedang kami kerjakan dan persiapkan yaitu inisiasi dua proyek yang potensial untuk mempertemukan UKM Kanada dan Indonesia di bidang ketahanan pangan, ketahanan energi, dan isu-isu digital. Kami harap, Indonesia dapat menyambut baik gagasan ini,” ucap Yasir.
Adapun bahasan lain yang mengemuka yaitu rencana kunjungan Perdana Menteri Kanada ke Jakarta dan progres dari ASEAN-Canada Free Trade Agreement.
Total perdagangan bilateral antara Indonesia dan Kanada menunjukkan tren positif yang sangat solid. Pada 2025, total perdagangan barang bilateral mencapai USD 4,36 miliar, meningkat dari USD 3,57 miliar pada 2024, sementara ekspor Indonesia ke Kanada naik dari USD 1,44 miliar menjadi USD 1,69 miliar. Di sektor jasa, total perdagangan jasa kedua negara pada tahun 2024 mencapai USD 506,62 juta dengan surplus bagi Indonesia sebesar USD 102,92 juta, serta ekspor jasa Indonesia meningkat dari USD 278,30 juta menjadi USD 304,77 juta. Melalui implementasi tarif preferensial yang diatur dalam skema ICA-CEPA, total nilai perdagangan ini diproyeksikan akan terus melonjak sebesar tujuh hingga 10 persen pada akhir tahun 2026.
Pertumbuhan ini didukung kuat oleh komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Kanada yang didominasi oleh tekstil, alas kaki, makanan olahan, bogabahari, dan produk kayu. Sebaliknya, arus impor Indonesia dari Kanada masih sangat didominasi oleh komoditas pangan utama yaitu gandum, pupuk, bahan baku industri, serta produk pendukung sektor energi dan manufaktur. ***