Kesehatan
Menimba Pengalaman Sekolah yang telah Laksanakan PTM Seusai Pandemi Covid-19

Foto: Istimewa
FAKTUALid – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) telah di mulai di beberapa daerah. Tapi, rasa was-was akan serangan Covid-19 tak bisa sepenuhnya hilang.
Namun dari beberapa sekolah yang telah melaksanakan PTM, punya sejumlah cara untuk menjaga kesehatan siswa selama kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas di sekolah.
Seperti penuturan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dari sekolah Cikal Jakarta Maya Noviasari.
“Kita mengeluarkan sebuah form menggunakan google form untuk memonitor kesehatan anak setiap waktu,” kata Maya dalam diskusi virtual “Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Pandemi C9vid-19” yang dipantau via daring di Jakarta, Jumat (10/9/2021).
Ia mengatakan, form kesehatan anak tersebut wajib diisi oleh orangtua setiap pekan supaya perkembangan kesehatan anak tetap terpantau dari waktu ke waktu. Selain memberikan formulir kesehatan, pihaknya juga telah mengadakan kegiatan vaksinasi bagi para siswa yang sudah berumur 12 ke atas.
Pihaknya selalu menyemprot disinfektan sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran di lakukan.
Untuk lebih menjaga kebersihan siswa, sekolah bahkan berupaya memberikan penambahan wastafel di seluruh ruang kelas dan selasar terbuka agar siswa dapat menerapkan protokol kesehatan sesering mungkin.
“Anak-anak harus diajarkan bahwa ini adalah kebiasaan baru yang harus diterapkan setiap hari, di manapun baik di lingkungan rumah maupun di luar rumah,” katanya.
Maya menuturkan, selama berada di ruang kelas siswa akan duduk berjauhan. Seluruh barang pribadi diletakkan bukan di dalam loker, namun di atas meja masing-masing.
Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi mobilitas siswa selama di kelas dan tidak adanya pinjam meminjam barang antar siswa.
Hal yang sama juga berlaku pada seluruh siswa, pada saat menunggu orang tua atau wali menjemput ke sekolah. Maya mengimbau seluruh siswanya untuk duduk secara terpisah dan tidak berbicara dengan siswa lain sampai penjemput tiba di sekolah.
Untuk siswa yang ingin izin membuka masker untuk sekadar minum, dia akan meminta siswa tersebut untuk pergi ke luar kelas menuju area terbuka dan tidak mengizinkan para siswa pergi secara berkelompok.
“Kalau seandainya anak harus membuka masker untuk minum, dia harus berada di area terbuka. Tidak boleh ada di dalam ruangan dan tidak berkelompok,” ujar Maya.
Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Budaya Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Sri Wahyuningsing, seperti dikutip dari antaranews.com mengatakan, bagi sekolah yang telah menjalankan PTM secara terbatas, harus menjalani setiap peraturan yang terdapat di dalam SKB Empat Menteri.
“Tahapan-tahapan dari SKB Empat Menteri itu tentunya harus dipenuhi, diikuti, dipersiapkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan,” kata Sri.
Aturan-aturan tersebut perlu dijalankan, agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat disesuaikan dengan panduan pembelajaran yang dibuat oleh pemerintah selama masa pandemi Covid-19.
Sesuai dengan anjuran yang terdapat dalam SKB Empat Menteri, ucapnya, kegiatan belajar di sekolah secara terbatas harus memprioritaskan keamanan, kenyamanan, kesehatan serta keselamatan setiap pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Ia mengatakan, penting bagi pemerintah daerah terutama dinas pendidikan, untuk dapat mensosialisasikan hal tersebut mulai dari setiap sekolah yang telah memulai pembelajaran tatap muka secara terbatas hingga kepada orangtua siswa.
“Peran kawan-kawan pemerintah daerah khususnya dinas pendidikan melakukan sosialisasi sebelum PTM penting dilakukan. Ini juga sekolah harus paham betul, sampai orang tua semua harus saling mengedukasi,” tuturnya.
Untuk dapat memenuhi prioritas keselamatan tersebut, dia menyarankan pihak sekolah untuk memastikan setiap tenaga pendidik yang akan memberikan pelayanan pendidikan telah melakukan vaksinasi.
Sekolah, ujarnya, agar terus melakukan komunikasi dengan orangtua murid, untuk menjaga para siswa terus menerapkan protokol kesehatan tidak hanya di lingkungan sekolah dan di dalam rumah, tetapi juga di lingkungan luar.
“Sekolah tidak bisa hanya menekankan putra-putri didiknya tapi di rumah tidak teredukasi, itu tidak bisa. sehingga perlu ada komunikasi antara pihak sekolah dan orangtua untuk saling menjaga putra-putrinya untuk menerapkan perilaku disiplin terhadap prokes,” ujarnya.***










