Ekonomi
Rupiah Letih Hingga Terperosok ke Level Terendah, IHSG Menguat Signifikan

Nilai tukar (kurs) rupiah suram menjelang tutup tahun, Senin (29/12/2025), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat signifikan
FAKTUAL INDONESIA: Mendekati pergantian tahun 2025 ke tahun 2026 rupiah keletihan tertekan ekspektasi kelanjutan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia sehingga melemah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta Senin (29/12/2025).
Kalau rupiah letih maka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melangkah gagah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan saham Senin sehingga ditutup menguat siginifikan.
Hari ini, tiga hari menjelang tahun baru 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bahkan terperosok sampai menembus level terendah sejak awal April 2025. Ketika pembukaan perdagangan, rupiah sudah melemah ke level Rp16.772 per dolar AS, atau terkoreksi 27 poin atau sekitar 0,16 persen.
Baca Juga : Libur Nataru 2025/2026: Kurs Rupiah Menguat, IHSG BEI Sempoyongan ke Zona Merah
Sentimen negatif ini terus berlanjut sampai penutupan perdagangan ketika rupiah ditutup melemah ke level Rp16.788 per dolar AS, turun 43 poin atau sekitar 0,26 persen. Kurs rupiah Jisdor turut melemah Rp 21 atau 0,13% menjadi Rp 16.788 per dolar AS.
Seperti dilansir kontan, kurs rupiah menyentuh level paling lemah sejak awal April 2025.
Tekanan pada rupiah yang terjadi menjelang akhir tahun ini terutama disebabkan oleh kurangnya kepercayaan investor terhadap posisi fiskal Indonesia tahun ini dan tahun depan.
Menurut lansiran Ipotnews, melemahnya rupiah seiring perdagangan akhir tahun yang relatif sepi tanpa sentimen data baru signifikan.
Tekanan rupiah berasal dari ekspektasi pemangkasan BI Rate pada kuartal I dan II 2026, yang diperkirakan masing-masing sebesar 25 basis poin.
BI memberi sinyal pelonggaran lanjutan pada 2026, meski BI Rate masih ditahan di 4,75% pada RDG Desember 2025, dengan kebijakan moneter tetap bertumpu pada suku bunga, stabilisasi rupiah, dan pengelolaan likuiditas.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI dari Menguat Terperosok ke Zona Merah di Penutupan Perdagangan Selasa
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan hari ini menjelang akhir tahun, perdagangan relatif sepi. “Tidak ada data baru dari eksternal maupun internal yang mempengaruhi pergerakan kurs rupiah dengan signifikan hari ini,” kata Lukman kepada Ipotnews melalui pesan suara sore ini.
Walau demikian, kurs rupiah tertekan hari ini karena adanya ekspektasi terhadap kelanjutan pemangkasan BI rate pada 1Q26 dan 2Q26. Di akhir kuartal satu dan kedua tahun depan diperkirakan akan ada lagi pemangkasan masing – masing 25 basis poin.
“Faktor ini yang menjadi penekan kurs rupiah dalam perdagangan hari ini,” ujar Lukman.
BI memberi sinyal pemangkasan suku bunga acuan atau BI Rate pada 2026 mendatang, meski Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025 sepakat menahan suku bunga di level 4,75%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bank sentral akan tetap menjalankan kebijakan moneter 2026 melalui tiga instrumen utama. Ketiganya adalah suku bunga, stabilisasi nilai tukar, dan pengelolaan likuiditas melalui operasi moneter.
Baca Juga : Akhir Pekan yang Lesu, Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Ditutup Melemah, Kenapa?
Menurut Perry, BI telah menurunkan suku bunga acuan secara bertahap sebanyak 100 bps sejak awal 2025 dan terakhir kalinya pada September lalu.
IHSG Naik ke Level 8.644
Lain rupiah lain pula penampilan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak pagi ketika perdagangan saham dibuka hingga penutupan sore harinya IHSG terus berada di zona hijau.
Saat pembukaan, IHSG dibuka menguat 7,80 poin atau 0,09 persen ke posisi 8.545,71. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,36 poin atau 0,28 persen ke posisi 847,80.
Posisi itu terus dipertahankan sehingga IHSG ditutup menguat signifikan 106,34 atau 1,25 persen ke posisi 8.644,25. Untukkelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 6,60 poin atau 0,78 persen ke posisi 852,04.
Baca Juga : Rupiah Melemah dari 1 menjadi 29 Poin, IHSG BEI dari Hijau ke Zona Merah
Dari pantuan media online seperti laporan infobanknews, berdasarkan statistik RTI Business, tercatat 213 saham terkoreksi, 464 saham menguat, dan 131 saham tetap tidak berubah.
Sebanyak 41,10 miliar saham diperdagangkan dengan 2,75 juta kali frekuensi perpindahan tangan, dan total nilai transaksi Rp22,84 triliun.
Lebih lanjut, seluruh indeks dalam negeri juga bergerak menguat, terlihat dari LQ45 yang naik 0,78 persen ke 852,05, JII meningkat 1,13 persen menjadi 582,18, IDX30 menguat 0,77 persen menjadi 439,40, dan Sri-Kehati naik 0,44 persen menjadi 383,42.
Kemudian, hampir seluruh sektor juga ditutup hijau, terlihat dari sektor siklikal meningkat 3,70 persen, sektor infrastruktur menguat 3,33 persen, sektor energi naik 3,17 persen, sektor bahan baku meningkat 3,11 persen, sektor transportasi menguat 2,63 persen.
Baca Juga : Sempat Menguat, Rupiah dan IHSG BEI Melemah di Penutupan Perdagangan
Selanjutnya, sektor industrial naik 1,94 persen, sektor keuangan meningkat 0,90 persen, sektor properti menguat 0,84 persen, sektor non-siklikal naik 0,47 persen, dan sektor kesehatan meningkat 0,17 persen.
Sedangkan, hanya sektor teknologi yang mengalami pelemahan sebanyak 1,17 persen, dengan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melemah 1,54 persen.
Sederet saham top gainers di antaranya adalah PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Sedangkan saham top losers adalah PT Ulima Nitra Tbk (UNIQ), PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP), dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA).
Adapun, tiga saham teratas yang paling sering diperdagangkan, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Sentul City Tbk (BKSL). ***











